Beberapa hari yang lalu, saya berulang tahun ke-40. Banyak orang bilang di usia 40 tahun adalah puncak kesuksesan dalam hidup kita. Benarkah? apa yang yang sudah saya capai dalam 40 tahun saya hidup.
Apa yang Dilihat Orang-Orang Dari Saya?
Mungkin banyak orang melihat saya di usia 40 tahun ini benar-benar sudah mencapai puncak kesuksesan. Saya memiliki sebuah perusahaan multi nasional yang beroperasi di 4 negara dengan lebih kurang 150 karyawan. Memiliki klien-klien internasional yang namanya sudah cukup terkenal di Indonesia. Secara tampilan, juga cukup meyakinkan, saya punya rumah yang nyaman dan lega, apartment yang lokasinya strategis. Saya dan istri punya kendaraan sendiri-sendiri yang secara kelas kendaraan bisa dibilang cukup diatas rata-rata.
Dari sisi keluarga, mungkin orang akan melihat kami sebagai family goal. Istri saya, usianya 39 tahun, tapi secara fisik seperti masih nampak usia 25 tahun, dan itu tanpa melakukan aneka perawatan yang mahal-mahal. Anak-anak kami, 3 orang, semuanya memiliki fisik sempurna dan kecerdasan diatas rata-rata. Kesadaran spiritual keluarga saya juga baik, kami cukup rajin ke masjid dan aktif dipengajian, hafalan Al-Quran anak-anak juga sangat baik.
Singkat cerita, saya dan keluarga, di usia 40 tahun saya, dilihat sudah berada di puncak kesuksesan kami dan menjadi role-model banyak orang yang mengenal kami.
Tapi benarkah demikian?
Apa yang Tidak Dilihat Orang-Orang Dari Saya?
Banyak orang yang tidak tahu tentang kehidupan saya yang sebenarnya.
Perusahaan saya, yang sudah saya dirikan dari 6 tahun dan lalu, dalam ambang kebangkrutan. Saya dan partner usaha saya sudah lama memiliki konflik dalam bagaimana seharusnya perusahaan dijalankan. Dan puncak konflik terjadi mendekati ulang tahun saya ke 40. Partner saya memutuskan untuk melakukan downsizing dengan memberhentikan karyawan-karyawan yang di luar negeri. Untuk karyawan di Indonesia, dia biarkan menggantung, sialnya uang operasional ada di tangan dia, dan sepertinya tidak ada itikad dari partner saya tersebut untuk membayarkannnya kepada karyawan di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Bisa dituntut secara hukum dong? bisa sih, tapi akan makan waktu dan biaya lama, dan kalaupun berhasil, sudah ndak ada apa-apa lagi darinya yang bisa di claim. Semua tabungan cash saya, saya gunakan untuk menutupi gaji karyawan dan operasional untuk beberapa bulan terakhir. Habis semua cash yang saya miliki. Sekedar info, sebulan operasional kami di Indonesia, paling tidak perlu Rp 2.5 Milyar/bulan
Tertatih-tatih, saya membangun perusahaan baru, agar karyawan di Indonesia masih bisa paling tidak saya lindungi. Saya harus mulai lagi semuanya dari 0, dan lebih parah lagi, tidak ada modal sama sekali. Keuangan saya di awal usia 40 tahun saya ... memulai lagi dari titik nadir 0.
Yang tidak dilihat orang-orang lain terhadap saya adalah, rumah dan asset yang saya miliki masih berstatus kreditan, belum lunas, dan setiap bulan saya masih punya ketakutan bagaimana besok saya bisa membayarnya.
Bagaimana dengan keluarga saya? apa yang dilihat orang lain tentang keluarga saya ndak salah. Tapi yang mereka ndak ketahui adalah, saya punya keluarga lain. Saya adalah penganut poligami, saya punya istri kedua, jangan salah, istri pertama dan keluarga kami menyetujui dan ikhlash tentang ini. Beberapa orang terdekat keluarga kami juga tahun tentang ini. Sudah lebih kurang, saya menjalani poligami, saya menikahi seorang janda yang diceraikan suaminya. Istri kedua, membawa dua orang anaknya yang saya sayangi, dan juga menyayangi saya. Dari istri kedua ini juga, saya memiliki seorang anak lagi. Bayi laki-laki yang bersih, tampan dan begitu lucu. Tapi hal ini ndak diketahui banyak orang disekitar saya. Bukannya saya merahasiakan, tapi juga bukan untuk saya gembor-gemborkan. Dan memiliki dua keluarga. benar-benar sebuah tantangan baru bagi saya. Meskipun ikhlash dan saling menghormati antar istri dan anak-anak saya, tapi tetap kadang saya bisa merasakan kecemburuan satu dengan lainnya atas beberapa hal yang terjadi.
Jadi apakah menurut teman-teman pembaca, saya ada di titik puncak kesuksesan hidup saya di usia 40 thauun ini? atau bagaimana ? Silahkan tuliskan komen teman-teman semua.
Perusahaan saya, yang sudah saya dirikan dari 6 tahun dan lalu, dalam ambang kebangkrutan. Saya dan partner usaha saya sudah lama memiliki konflik dalam bagaimana seharusnya perusahaan dijalankan. Dan puncak konflik terjadi mendekati ulang tahun saya ke 40. Partner saya memutuskan untuk melakukan downsizing dengan memberhentikan karyawan-karyawan yang di luar negeri. Untuk karyawan di Indonesia, dia biarkan menggantung, sialnya uang operasional ada di tangan dia, dan sepertinya tidak ada itikad dari partner saya tersebut untuk membayarkannnya kepada karyawan di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Bisa dituntut secara hukum dong? bisa sih, tapi akan makan waktu dan biaya lama, dan kalaupun berhasil, sudah ndak ada apa-apa lagi darinya yang bisa di claim. Semua tabungan cash saya, saya gunakan untuk menutupi gaji karyawan dan operasional untuk beberapa bulan terakhir. Habis semua cash yang saya miliki. Sekedar info, sebulan operasional kami di Indonesia, paling tidak perlu Rp 2.5 Milyar/bulan
Tertatih-tatih, saya membangun perusahaan baru, agar karyawan di Indonesia masih bisa paling tidak saya lindungi. Saya harus mulai lagi semuanya dari 0, dan lebih parah lagi, tidak ada modal sama sekali. Keuangan saya di awal usia 40 tahun saya ... memulai lagi dari titik nadir 0.
Yang tidak dilihat orang-orang lain terhadap saya adalah, rumah dan asset yang saya miliki masih berstatus kreditan, belum lunas, dan setiap bulan saya masih punya ketakutan bagaimana besok saya bisa membayarnya.
Bagaimana dengan keluarga saya? apa yang dilihat orang lain tentang keluarga saya ndak salah. Tapi yang mereka ndak ketahui adalah, saya punya keluarga lain. Saya adalah penganut poligami, saya punya istri kedua, jangan salah, istri pertama dan keluarga kami menyetujui dan ikhlash tentang ini. Beberapa orang terdekat keluarga kami juga tahun tentang ini. Sudah lebih kurang, saya menjalani poligami, saya menikahi seorang janda yang diceraikan suaminya. Istri kedua, membawa dua orang anaknya yang saya sayangi, dan juga menyayangi saya. Dari istri kedua ini juga, saya memiliki seorang anak lagi. Bayi laki-laki yang bersih, tampan dan begitu lucu. Tapi hal ini ndak diketahui banyak orang disekitar saya. Bukannya saya merahasiakan, tapi juga bukan untuk saya gembor-gemborkan. Dan memiliki dua keluarga. benar-benar sebuah tantangan baru bagi saya. Meskipun ikhlash dan saling menghormati antar istri dan anak-anak saya, tapi tetap kadang saya bisa merasakan kecemburuan satu dengan lainnya atas beberapa hal yang terjadi.
Jadi apakah menurut teman-teman pembaca, saya ada di titik puncak kesuksesan hidup saya di usia 40 thauun ini? atau bagaimana ? Silahkan tuliskan komen teman-teman semua.
Comments
Post a Comment